Zoobi Doobi | ahai | adzeeek
DUA PULUH TUJUH RAJAB. Malam hari. Malam yang penuh fenomenal dan kontroversial. Saling terkait erat dengan science.
[Kami menemukan ‘mutiara dalam lumpur,’ terlalu eman jika tidak dipublish. Ada beberapa editan redaksional, tentu saja tidak mempengaruhi isi dari keseluruhan serpihan mutiara ini. Sengaja tidak izin kepada pemiliknya. Kami yakin, pasti diizinkan. Ini juga sebagai surprise. Banyak tulisan bagus, berhubung sebagai admin sebuah account, merasa tidak enak hati jika tulisan sendiri dimuat di account tersebut. Kami persembahkan untuk Anda semua].
Ngaji Dari: Gandhie Tanjung AZK
DUA PULUH TUJUH RAJAB. Malam hari. Malam yang penuh fenomenal dan kontroversial. Saling terkait erat dengan science. Alam makro dan alam mikro; materi dan energi; ruang dan waktu, dan lain-lain.
Bagaimana mungkin seorang Muhammad, lima belas abad lalu, melakukan sebuah perjalanan jauh hanya dalam waktu setengah malam. Isra’ dan Mi’raj. Isra’ (perjalanan horisontal) dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Yerussalem. Kemudian Mi’raj (perjalanan vertikal) dari landasan pacu Masjidil Haram di Yerussalem menuju ‘langit.’ Sidratul Munthaha.
Dua perjalanan ini sangat menarik bagi ilmu pengetahuan. Kisah ini terrekam jelas dalam Al Qur’an, terutama Surat Al Isra’.
Dalam QS Al Isra’ ada beberapa poin (kata kunci).
1. Subhanalladzi, Maha Suci Allah.
2. Asraa, memperjalankan.
3. Abdihii, hamba-Nya.
4. Laila, malam hari.
5. Minal masjidil haram ilal masjidil aqsha, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
Pertama; Subhanalladzi. Allah-lah dibalik peristiwa perjalanan Muhammad. Muhammad diperjalankan. Perjalanan ini bukan kehendak Muhammad. Maha Suci Allah.
Kedua; asraa, memperjalankan. Memiliki makna penting dalam memahami peristiwa tersebut.
Dalam perjalanan ini Muhammad tidak sendirian, disertai Jibril dan Buraq. Buraq adalah mahluk berbadan cahaya yang berasal dari alam malaikat. Berasal dari kata barqun, artinya kilat. Dengan kecepatan cahaya sekitar 300.000 km/detik. Di sinilah kontradiksi dimulai.
Dalam ilmu fisika modern diketahui kecepatan tertinggi di alam semesta adalah cahaya. Belum ada kecepatan lain yang lebih tinggi dari cahaya. Kecepatan setinggi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang benda. Hanya sesuatu yang sangat ringan yang bisa memiliki kecepatan tinggi. Saking ringannya, maka sesuatu itu harus tidak memiliki massa atau bobot sama sekali. Jika sesuatu masih memiliki bobot, meskipun hampir nol, ia tidak bisa mengalami kecepatan cahaya. Yang bisa melakukan kecepatan itu hanya photon saja, yaitu kuantum-kuantum penyusun cahaya. Bahkan elektron yang bobotnya dikatakan hampir nol-pun tidak bisa memiliki kecepatan setinggi itu.
Jibril dan Buraq adalah mahluk cahaya, yang badannya tersusun dari photon-photon, yang sangat ringan. Jadi tidak mengalami kendala kecepatan. Sedang Muhammad sendiri adalah manusia biasa. Badannya tersusun dari atom-atom kimiawi yang memiliki bobot.
Kalau memahami zat-zat penyusun tubuh manusia, kita mendapati badan terdiri dari organ-organ tubuh; seperti paru-paru, liver dan seterusnya. Bagian yang lebih kecil disebut sel. Ada sel-sel jantung, ada sel-sel otak dan lain-lain. Berbagai macam sel tersusun dari molekul-molekul. Mulai dari H20 sampai rantai molekul asam amino atau protein-protein kompleks lainnya.
Jika dicermati lebih detail lagi, molekul tadi tersusun oleh atom-atom. Atom ternyata juga tersusun dari partikel-partikel sub atomik, seperti proton, neutron, elektron, dan seterusnya.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin manusia yang memiliki bobot cukup berat pasti tidak bisa dipercepat dengan kecepatan tinggi, sebagaimana photon-photon tadi.
Selain bobot yang berat, sistem tubuh manusia juga tidak bisa dipercepat dengan kecepatan yang amat tinggi. Seperti pilot yang tak terlatih, bisa mengalami black out, pingsan di angkasa. Efek lainnya lebih dahsyat lagi; badan manusia akan tercerai-berai menjadi partikel-partikel sub atomik.
Sebagaimana penjelasan di atas, tubuh manusia tersusun dari partikel-partikel sub atomik yang saling erat bergandengan menggunakan binding energy. Jadi, ketika dipercepat dengan kecepatan tinggi, maka muncullah gaya berlawanan dengan binding energy tersebut; maka tubuh menjadi hancur. Secara ilmiah memang sulit dibuktikan bahwa Muhammad melakukan perjalanan tersebut dengan wadag-nya yg normal.
Kunci kedua inilah, asraa’ menjelaskan. Bahwa peristiwa isra’ adalah Muhammad diperjalankan oleh-Nya. Mungkinkah peristiwa isra’ ini bisa dijelaskan dengan pemahaman yang masuk akal? Secara ilmu pengetahuan. Scientific?
Ilmu Fisika Modern ternyata bisa memberikan jawaban.
Salah satu skenario rekontruksi untuk mengatasi problem di atas adalah Teori Annihilasi. Teori yang mengatakan setiap materi memiliki anti materi. Jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan antimateri-nya, maka kedua partikel tersebut akan lenyap menjadi seberkas cahaya (sinar gama). Lalu kedua pasangan partikel itu lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, masing-masing energi 0,511 MeV untuk pasangan partikel. Dan, jika ada sinar gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar itu lenyap berubah jadi dua (2) pasang partikel. Hal ini menunjukkan bahwa materi memang bisa diubah menjadi cahaya dengan cara tertentu. Ini yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.
(Maaf, rehat sebentar; Annihilasi, agak mirip-mirip nama seseorang).
Teori Annihilasi dapat digunakan untuk menjelaskan proses manusia Muhammad pada etape pertama ini. Isra’. Makkah menuju Yerussalem.
Lalu Mi’raj. Perjalanan menuju langit. Maka Allah ‘meng-convert’ badan wadag Muhammad menjadi badan cahaya. Hal itu untuk ‘mengimbangi’ kualitas kecepatan Jibril dan Buraq yang cahaya itu.
Kapan proses itu berlangsung? Tentu saja sebelum Muhammad bersiap Isra’ M’raj. Yakni, tatkala proses pensucian hati Muhammad oleh Jibril dengan air zam-zam.
Manusia adalah sebuah sistem energi yang berpusatkan di hati atau jantung. Seluruh perubahan yang terjadi pada sistem energi tubuh seseorang bisa tercermin pada frekuensi hatinya. Sebaliknya, karena hati menjadi pusat sistem energi itu, maka yang dilakukan adalah mereaksikan hatinya itu. Barangkali seperti itulah yang terjadi pada Muhammad saat di-operasi, dibedah, oleh Jibril, lalu dicuci dengan air dari sumur zam-zam.
Jibril melakukan memanipulasi terhadap sistem energi dalam tubuh Muhammad. Seluruh badan material di ‘annihilasi’ untuk menjadi badan cahaya.
Maka ketiga makhluk Allah; Muhammad, Jibril dan Buraq; telah siap dengan memilik kondisi tubuh yang bermateri sama. Cahaya. Perjalanan dengan kecepatan 300.000 km/detik menjadi hal yang niscaya. Jarak tempuh 1500 km dilalui sekitar 0,005 detik.
Adanya relatifitas waktu antara dunia manusia dengan dunia malaikat menyebabkan Muhammad sangat merasakan sepenuhnya perjalanan itu. Sehingga tiap peristiwa yang terjadi selama perjalanan, dapat diingingat dan diceritakan menceritakan kembali dengan detil. Bagaikan orang bermimpi, meskipun tidur selama satu menit, namun bisa bercerita panjang lebar.
Jawabannya adalah; karena satuan waktu yang berjalan di dunia mimpi dan dunia nyata berbeda. Agar mirip semacam itulah untuk menjelaskan perjalanan etape kedua. Memperjalankan. Asraa’.
Masih ada tiga PR lagi yang belum dijelaskan. Yakni; Abdihii, Laila dan Minal masjidil haram ilal masjidil aqsha. []
Swift Taylor - Black to December
(Source: youtube.com)
TIBA-TIBA para santri yang mengiringi Gus Dur berhamburan keluar. Salah satunya pamit, “Mau tanya pemilik restaurant, ada babinya atau tidak.” Gus Dur segera mencegah, “Tak usahlah!”
Cerita selanjutnya, Gus Dur dan para ‘pengikutnya’ makan dengan lahapnya. Mereka tak berani lagi bertanya soal babi tadi. Usai makan Gus Dur bilang, “Jika kita ragu soal ada babinya atau tidak, maka haramlah. Tapi jika tak tahu, meskipun sesungguhnya yang disuguhkan mengandung babi, tak apa. Kita kan tidak tahu.” Sederhana.
Hal semacam inilah yang menjadi ‘persoalan besar’ bagi saya tatkala ‘diperjalankan’ ke negara Hong Kong, November 2009, lalu. (Agak kenes juga memakai istilah ‘diperjalankan.’ Terasa tidak pas untuk ukuran wong pekok semacam saya).
Perjalanan empat jam di atas pesawat, lumayanlah dapat makan siang, yang pasti Garuda menyuguhkan makanan halal. Sesampai di Hong Kong, perut sudah terasa melilit. Syukurlah tidak lama makanan catering sudah siap. Nasinya saya lahap, dagingnya saya singkirkan. Informasi belum banyak saya terima. Sesungguhnya makanan catering juga bikinan para TKW, yang insyaallah, pasti sudah dipertimbangkan halal haramnya.

Jadi sesungguhnya, sertifikasi halal di negeri yang penduduknya lebih banyak muslim tidaklah penting. Justru sertifikasi haram-lah yang dibutuhkan. Beda dengan negara-negara lain